Edwin Pamimpin Situmorang

Edwin Pamimpin Situmorang lahir di Laguboti, Kecamatan Toba Samosir, Sumatera Utara, 6 Oktober 1952. Sejumlah tokoh di bidang hukum yang mengenalnya dari dekat, menyebutkannya sebagai seorang “Penegak hukum yang tidak diskriminatif, konsisten, tuntas, dan tegas. Seorang abdi Negara yang tak kurang keyakinan religiusnya.” Di dalam komunikasi sehari-hari dia selalu mengingatkan akan kebesaran Tuhan, yang tampil dalam profil BlackBerry-nya, dan berbunyi, “Terima kasih, Tuhan…”

Ketika dia masih menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, yang berkedudukan di Palembang, Edwin berhasil mengungkap 28 kasus korupsi yang menyeret orang-orang pemerintah, swasta, dan pejabat badan usaha milik negara, yang diproses sampai ke pengadilan. Namun, tak selamanya tekad dan niat yang baik mencapai tujuan. Di kota tersebut pula Edwin sempat merasa seperti sendirian dalam upaya menegakkan keadilan, dalam memberantas korupsi yang merugikan negara dan menyengsarakan rakyat. Ketika itu, dia mengeluarkan surat penahanan terhadap seorang pejabat tinggi pemerintah di bidang pertanahan di daerah Sumatera Selatan, karena diduga terlibat dalam tindak pidana korupsi bernilai milyaran rupiah. Tetapi, langkahnya itu tersandung karena oleh pengacara tersangka, dan pemberitaan yang negatif oleh sebagian media massa lokal, yang menuduh dia telah melanggar hak-hak asasi seseorang karena melakukan penahanan secara tidak syah. Karena di dalam surat perintah penahanan tidak tercantum kata-kata “Jaksa Penyidik.” Masalah yang sebenarnya masih “debatable.” Ketika permohonan Pra Peradilan atas penahanan tersebut digelar di Pengadilan Negeri Palembang, Edwin Pamimpin Situmorang dikalahkan.

Sewaktu Edwin tiba di Palembang untuk melaksanakan tugas sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi, beliau melihat masyarakat Sumatera Selatan begitu mendambakan adanya penegakan hukum yang tegas terhadap para pelaku korupsi. Hal ini dia terjemahkan sebagai harapan akan adanya tindakan hukum yang kongkrit yang dilakukukan oleh aparat penegak hukum terhadap pelaku korupsi, seperti melakukan penahan sejak tahap penyidikan. Kemudian beliau memberikan instruksi kepada jajaran Kejaksaan di Sumatera Selatan untuk melakukan penahanan terhadap setiap tersangka tindak pidana korupsi, apabila dalam tahap penyidikan sudah ditemukan bukti yang kuat. Inilah yang kemudian menjadi dasar pengusutan korupsi di bidang pertanahan pada saat mana Edwin melakukan penahanan terhadap tersangkanya. Melalui penasihat hukumnya, tersangka mengajukan permohonan untuk mem-Pra Peradilankan surat penahanan tersebut. Hakim Pra Peradilan mengabulkan permohanan tersebut dan menyatakan surat perintah penahanan tadi tidak syah, kerena penandatanganan surat perintah hanya mencantumkan jabatan struktural, tidak mencantumkan kedudukan sebagai Jaksa Penyidik. Edwin dengan segera melaporkan masalah yang dia hadapi ke Kejaksaan Agung di Jakarta, dan menyarankan penajaman dalam setiap surat perintah penahanan yang dikeluarkan Kejaksaan untuk mencantumkan sebutan “Jaksa Penyidik.”

Edwin tidak melaksanakan putusan Pra Peradilan tadi. Dia tidak melepaskan tersangka dari tahanan. Bukan karena beliau tidak taat hukum atau tidak menghormati putusan pengadilan. Di tengah kedongkolannya, dia menemukan adanya peluang hukum yang bisa memberikan alsan kepadanya untuk tidak melaksanakan keputusan tadi. Putusan Pra Peradilan tersebut dikeluarkan sesudah selesainya masa berlakunya penahanan yang 20 hari. Dengan surat perintah penahanan yang baru dan lengkap, pejabat pemerintah di bidang pertanahan yang menjadi tersangka itu kemudian diproses dan berkasnya dilimpahkan ke pengadilan. Namun, upaya Edwin untuk menjerat tersangka dikandaskan oleh lembaga hukum yang lain. Terdakwa dibebaskan oleh pengadilan…

Pengalaman memberikan Edwin pelajaran untuk sampai pada satu kesimpulan bahwa tiadanya kesamaan sikap dan langkah dari aparat penegak hukum menjadi kendala dalam memerangi korupsi. Menurut dia, ada dua kemungkinan penyebab mengapa para pejabat yang menduduki posisi tinggi dalam pengelolaan negara tidak terjamah dalam kasus dugaan korupsi. Pertama, secara hukum pejabat tinggi yang bersangkutan tidak terbukti terlibat. Kemungkinan kedua, pejabat tersebut terlibat korupsi, tetapi belum ditemukan alat buktinya.

Tentang perjalanan karier Edwin, Antonius Sujata, mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, yang kemudian memangku jabatan Ketua Komisi Ombudsman Nasional, mengatakan: “Yang saya lihat pada Edwin adalah bahwa dia mengerjakan lebih dari yang diminta pimpinannya. Saya pikir ini syarat bagi seseorang yang ingin berhasil. Kalau mau berhasil dalam karier, dalam apa pun, kiatnya adalah mengerjakan lebih dari yang semestinya. Orang yang punya karakter seperti inilah yang punya modal untuk sukses. Itulah Edwin.” Ketika Antonius Sujata duduk sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Papua, Edwin Pamimpin Situmorang adalah Asisten Intelijennya.

Antonius Sujata gemar bersenda-gurau. Kalau ada petemuan di Kejaksaan, dia selalu mengatakan Edwin itu kelak akan menjadi pemimpin, “Karena memang namanya Pamimpin. Saya kira kerinduan akan menjadi pemimpin itu sudah ada sejak kedua orangtuanya memberikan nama Edwin Pamimpin Situmorang kepadanya.”

Nama yang terdengar seperti sebuah keinginan yang kuat untuk mengejar sebuah cita-cita yang tinggi itu telah menempuh jalan hidupnya sendiri. Mencari nama bagi sepasang suami-istri yang sedang menunggu lahirnya seorang bayi, agaknya lebih sulit daripada menemukan jarum dalam timbunan sekam. Banyak nama yang kedengarannya indah dan mengandung makna yang kuat, namun memerlukan kebijaksanaan, nilai kepatutan, bahkan keberanian mental untuk memilihnya. Apalagi nama itu menyiratkan tentang seseorang yang akan menjadi penunjuk jalan menuju kebenaran kepada para pengikutnya. Mungkin dia seorang yang jadi idola. Tetapi, sebuah nama tidak hanya sebagai pembeda antara seseorang dengan yang lain. Dia sesungguhnya adalah doa dan harapan. Dengan kesadaran seperti itulah pedagang kain yang sedang menanjak bisnisnya dari Laguboti, Misaraem Alfred Situmorang dan istrinya, Paulina boru Pangaribuan,  memberikan nama Pamimpin kepada anak mereka yang kesebelas. Anak laki-laki. Nama itu selengkapnya berbunyi: Pamimpin Parluhutan Hasudungan. Kalau diterjemahkan dengan bebas ke dalam Bahasa Indonesia, maka ketiga rangkaian kata dalam Bahasa Batak itu berarti Pemimpin Yang Istimewa. Anak kesebelas yang didoakan dan diharapkan ketika dewasa, dan selama menempuh jalan hidupnya, akan membawa berkah untuk keluarga dan orang banyak.

Orangtua hanya bisa berharap dan berdoa akan hari depan yang baik bagi anaknya. Namun, apa daya. Ketika sudah beranjak akil balig, sang anak yang harus menyandang nama itu bukannya merasa seperti sedang memikul beban harapan, tetapi malah merasa risih. Sejujurnya, dia tidak menyukai nama itu. Buat dia nama besar itu justeru kedengarannya “kampungan,” sebagaimana yang dia akui sendiri. Di dalam lingkungan keluarga dan teman-teman dia memang dikenal dengan nama Pamimpin. Tetapi, dalam bersenda-gurau, sering pula teman-temannya mengolok-olok dia dengan mengatakan, “Ah, Pamimpin apa kau…?”Mereka memanggilnya dengan sebutan “Itpin” atau “Pippin.” Sama seperti semua remaja yang ingin disebut dengan panggilan yang sedap didengar dan serasi dengan selera seorang anak yang sedang mekar, maka diam-diam, dengan siasatnya sendiri, dia mengubah dan mempercantik nama panggilan Ippin, yang diberikan teman-temannya itu, menjadi Eppin. Nama inilah yang menjadi panggilannya ketika dia masuk sekolah menengah atas di Balige, sebuah kota kecil yang menengger di tepi Danau Toba, di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Dia menempuh sekolah menengah pertama di kota kelahirannya, Laguboti. Prestasinya menonjol dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya. Edwin kecil terutama unggul dalam mata pelajaran kewarganegaraan, berkat kegemarannya menyimak bahan bacaan yang tersedia dengan cukup di rumah orangtuanya yang berusaha di bidang penerbitan. Karena merasa gelisah melihat gadis-gadis teman sepermainannya yang sudah duduk di kelas yang lebih tinggi, Edwin yang mulai beranjak remaja, sengaja tidak naik ke kelas tiga SMP, tetapi langsung melompat ke kelas satu di SMA HKBP di Balige. Untuk menutupi kekurangan karena tidak meliki ijazah sekolah menengah pertama, maka bersamaan dengan ujian naik kelas dua SMA, dia mengikuti ujian ekstra atau ujian persamaan SMP, dan dia lulus. Kemajuan yang dia raih ketika duduk di kelas dua sekolah menengah atas tidak sebagaimana yang diharapkan. Oleh ibunya dia dipindahkan ke Bandung. Dia dititipkan pada abangnya yang bertempattinggal di kota itu. “Pembuangan” itu membuka kesempatan baginya untuk melakukan pergeseran terhadap nama yang dia rasa terus mengganjal di hati. “P” pada Edpin, yang membuat nama itu kedengaran murahan, kemudian dia gantikan dengan “V” yang terasa lebih berwibawa. Maka lahirlah sebuah nama baru, EDVIN. Lantas, kekacauan administratif di Sekolah Menengah Atas Badan Usaha Rakyat (BUR) di Bandung menyempurnakan cita-citanya untuk memperoleh nama yang sesuai dengan kemauannya. Ketika dia menerima surat tanda lulus sekolah menengah atas, entah bagaimana, di ijazah itu namanya malahan menjadi lebih membahagiakan hatinya: Edwin Pamimpin Situmorang. Sementara kata-kata dalam nama Parluhutan dan Hasudungan, yang menjadi bagian dari doa dan harapan yang tertumpang pada nama yang diberikan kedua orangtuanya tempo hari, sudah tersingkir.

Sekarang, ketika dia sudah mencapai kedudukan tertinggi, yang untuk pertama kali bisa digapai seorang jaksa karier berdarah Batak dan Kristen, di Kejaksaan Agung Republik Indonesia, yaitu sebagai Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara dan kemudian dimutasi menjadi Jaksa Agung Muda Intelijen, kalau bercerita tentang riwayat hidupnya, terutama kisah tentang namanya itu, Edwin Pamimpin Situmorang kelihatan menahan nafas sesaat. Dia seperti sedang menyesali diri, mengenang muslihat yang telah dia lakukan untuk mengubah nama yang diberikan orangtuanya, dulu. Dia memang merasa, nama yang diciptakannya sendiri itu sudah menjadi jodoh dalam perjalanan hidupnya yang getir sampai bisa menapak di jalan emas. “Namun, saya merasa bersalah pada orangtua saya, karena telah mengaburkan nama yang telah mereka berikan kepada saya waktu saya kecil dulu. Saya harus akui nama Pamimpin yang diberikan orangtua saya telah banyak memberikan keberuntungan. Saya sadar, Tuhanlah yang telah memberikan nama itu kepada orangtua saya. Berkat merekalah saya bisa mencapai apa yang telah saya miliki sekarang,” katanya dengan tatapan mata yang jauh, di ruangan kantornya yang tenang di lantai III gedung Kejaksaan Agung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pusat perbelanjaan Blok M dan terminal bus dalam kota yang selalu riuh-rendah hanya sepelemparan batu jauhnya. Dia duduk menghadap meja kerja yang terletak di sudut ruangan yang sejuk, seluas 100m2. Dari situlah dia mengendalikan jalannya tugas sehari-hari dengan bantuan sejumlah staf yang menempati beberapa ruangan terpisah. Di sebelah kirinya berdiri seperangkat televisi 32 inci yang acapkali menayangkan acara pertandingan golf internasional, yang memberikan kesempatan baginya untuk mengendurkan tekanan dari pekerjaan yang harus dia pikul. Melalui seperangkat kamera khusus, dari tempat duduknya itu dia juga bisa mengamati gerak-gerik mereka yang lalu-lalang di sekitarnya.

“Pujangga Inggris William Shakespeare mempertanyakan apalah arti sebuah nama. Memang, kalau kita hanya melihat sepenggal nama, maka seolah-olah nama itu tidaklah penting. Tetapi, pada akhir perjalanan karier saya, saya menyadari bahwa sesungguhnya nama telah mendatangkan banyak berkah kepada saya. Saya bersyukur kepada kedua orangtua saya yang telah memberikan sebuah nama kepada saya. Dan saya yakini bahwa nama itu adalah nama yang diberkati oleh Tuhan. Nama itu adalah rencana Tuhan untuk hidup saya,” ucapnya dengan takzim.

Edwin adalah seorang yang mudah bergaul. Dan Pamimpin yang menjadi suku kata kedua dari namanya itu membuat dia mudah dikenang. Kalau ada pertemuan, koleganya akan merasa kehilangan kalau dia belum terlihat. “Mana Pemimpin kita?” tanya mereka sambil memandang berkeliling mencari yang punya nama. “Karena nama itu khas, seluruh jajaran Kejaksaan di seluruh Indonesia mengenal nama saya itu. Kalau saya mengikuti berbagai kursus dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Kejaksaan, nama itu semakin booming. Ketika saya mengikuti pendidikan di luar Kejaksaan, seperti Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) dan Sekolah Khusus Pendidikan Administrasi Nasional (Sespanas) saya selalu diingat teman-teman saya, karena nama saya itu. Waktu kecil saya amat membenci nama itu, tetapi sekarang saya sadari bahwa orangtua tidak sembarangan memberikan nama untuk anaknya,” katanya mengenang kebesaran jasa kedua orangtuanya yang telah memberikan pelita untuk menerangi perjalanan hidupnya melalui sebuah nama.

Dari gedung yang berdiri kokoh di Jalan Sisingamangaraja, Jakarta itu, tumpah darahnya, sebuah kota kecil yang bernama Laguboti jauh di mata, namun tetap dekat di hati Edwin Pamimpin Situmorang, sekalipun dia sudah terbang memikul tugasnya sebagai Jaksa mulai dari Jakarta, ke Kupang, Semarang, Pekalongan, Makale, Pontianak, Palembang, sampai Jayapura. Di Laguboti gondang kehidupannya mula pertama ditabuh. Dia anak kesebelas dari dua belas bersaudara. Kuasa Tuhan yang menentukan jalan hidup seseorang, sebuah keluarga. Dari selusin putra-putri Misaraem Alfred Situmorang dan istrinya Paulina boru Pangaribuan, hanya sepuluh orang yang terus tumbuh mencapai usia dewasa. Manisnya senda-gurau dengan dua orang kakak perempuannya hanya berlangsung sekejap. Keduanya meninggal ketika dia masih kecil.“ Kalau memperkenalkan keluarga, yang sepuluh yang hidup itu sajalah yang kami sebutkan. Jarang kami menyebutkan nama dua almarhum saudara yang telah mendahului kami itu,” kenang Edwin.

Kakaknya yang tertua adalah perempuan, bernama Lince Elfrida. Adik Lince, seorang lelaki, Saut Pardamean. Kakaknya yang ketiga juga perempuan: Nurmala. Yang keempat meninggal sebelum mencapai usia lima tahun. Kakaknya yang kelima adalah Tiurma Halomoan. Keenam, abang lelaki: Rusman Timbul. Ketujuh, Patar Souaon. Kedelapan, kakak perempuannya yang bernama Tianna. Kesembilan perempuan lagi, namanya Riama. “Lalu, di bawah kakak perempuan saya Riama ini, jadi anak yang kesepuluh, ada lagi perempuan yang  bernama Rusti, yang meninggal waktu dia masih bayi. Kesebelas barulah saya. Di bawah saya, sebagai anak kedua belas, adalah Netty Evelina.”

Kesedihan karena kehilangan saudara kandung yang dia sayangi mewarnai perjalanan hidup Edwin.“Praktis, sekarang kami kakak-beradik yang hidup tinggal enam orang. Enam dari dua belas,” katanya. Rusman Timbul Situmorang meninggal dalam kecelakaan pesawat Garuda, September 1997.  Jauh di dalam hatinya, dia menginginkan kebahagiaan, yang dia yakini hanya bisa diraih dengan susah-payah berkat bimbingan tangan Tuhan, bisa pula dinikmati, paling tidak disaksikan, oleh kesebelas saudara kandungnya, tetapi nasib berkata lain.

Edwin selalu menjaga hubungan baik dengan saudara-saudara sekandungnya sampai pun ketika dia sudah berada dalam puncak karier. Acara keluaga, sekecil apa pun, selalu dia hadiri. Kalau acara bertabrakan dengan waktu dinasnya, dia akan bertanya apakah ada kemungkinan waktunya diundur atau dimajukan, supaya dia bisa hadir. Dia mengenal suami atau istri saudara-saudaranya dengan baik. Lince Elfrida, kakaknya yang sulung, menikah dengan pria bermarga Simanjuntak; Saut Pardamean menikah dengan boru Harahap; Nurmala menikah dengan pria bermarga Aruan; Tiurma Halomoan menikah dengan pria bermarga Saragih; Rusman Timbul menikah dengan boru Sianturi; Patar Souaon menikah dengan boru Pangaribuan; Tianna menikah dengan pria bermarga Manurung; Riama menikah dengan pria bermarga Hutapea; dan Netty Evelina menikah dengan pria bermarga Sibarani.

Perhatiannya yang besar tidak hanya tertumpah pada keluarganya sendiri, tetapi juga keluarga dari pihak istri, Rumondang Linda Astuty br. Pasaribu. Nama mertua lelakinya Marisi Marulitua Pasaribu, mantan pejabat di PTP IV, sementara mertua perempuannya Lijah br. Siahaan. Dan dengan mudah dia mengingat pasangan dari abang-abang serta adik istrinya itu. Dohar Pasaribu menikah dengan boru Hutabarat; Bobby Pasaribu dengan boru Simanjuntak; Jimmy Pasaribu dengan boru Tambunan; Hendri Pasaribu dengan boru Hasibuan; Anto Pasaribu dengan boru Sihombing; Golfrid Pasaribu dengan boru Sinaga; Timbul Pasaribu dengan boru Siahaan; dan Ellen Pasaribu dengan Sitorus.***

 

Biodata

Edwin Pamimpin Situmorang, SH, MH

  • Tempat/tanggal lahir: Laguboti, 6 Oktober 1952
  • Pendidikan: Strata 1 Hukum, Universitas Negeri Padjajaran, 1977
  • Strata 2 Hukum, Universitas Negeri Tanjungpura, 2004

Pendidikan Kedinasan:

  • Pendidikan Pembentukan Jaksa (1980)
  • Kursus Penyuluhan Hukum (1983)
  • Sussar Intelijen ( BAIS ABRI) (1985)
  • Kursus Perdata dan Tata Usaha Negara (1992)
  • Sekolah PimpinanMadya (Sepadya) (1993)
  • Sekolah Staf dan Pimpinan Nasional (Sespanas) (1995)
  • LEMHANNAS, Kursus Reguler Angkatan XXXII (KRA32) (1999)

Riwayat Jabatan

  • Kasi Hukum & Perundang-Undangan Kejaksaan Agung (1979)
  • Kasi Sosbud pada Asisten intelijen Kejati NusaTenggaraTimur (1982)
  • Kasi Khusus pada Asisten Intelijen Kejati Nusa Tenggara Timur (1984)
  • Kasi Administrasi Intelijen pada Asisten Intelijen Kejati Jawa Tengah (1986)
  • Kasi Intelijen Kejaksaan Negeri Pekalongan (1990)
  • Kepala Kejaksaan Negeri Makale (1993)
  • Asisten Intelijen Kejati Irian Jaya (1995)
  • Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Sumatera Selatan (1996)
  • Wakil Kepala Kejati Sulawesi Utara (1998)
  • Asisten Umum Jaksa Agung RI (2000)
  • Kepala Kejati Kalimantan Barat (2001)
  • Direktur Ekonomi & Keuangan pada Jaksa Agung Muda Intelijen (2003)
  • Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan (2005)
  • Sekretaris Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (2007)
  • Deputi  Menko Polhukam Bidang Koordinasi Hukum dan HAM (2008)
  • Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (2008)
  • Jaksa Agung Muda Intelijen  (Kamis, 27 Mei 2010 – Rabu, 31 Oktober 2012)

Penugasan Khusus

  • Ketua Umum Konferensi ke-7 Persatuan Jaksa (International Association of Prosecutors) se-Asia PasifikdanTimur Tengah, 16-19 Maret 2011
  • Ketua Tim Jaksa Pengacara Negara dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Presiden RI/Wakil Presiden RI periode 2009-2014 di Mahkamah Konstitusi
  • Sekretaris Jenderal Tim Gabungan Pemberantasan Korupsi (TGPK) tahun 2000

Organisasi

  • Ketua Umum Gerakan Moral Anti Korupsi Masyarakat Sumatera Selatan, 2005-2007
  • Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Jaksa Indonesia, 2009-2012
  • Ketua Umum Panitia Nasional Jubileum 150 Tahun HKBP, 2009-2011
  • Ketua Umum Badan Pengelola Sopo Marpingkir
  • Purna Jabatan Rabu, 31 Oktober 2012
 
 

Tim Ahli Hukum & Advokasi

   

     

Tim Ahli Hukum dan Advokasi kami terdiri dari praktisi hukum yang sangat berpengalaman dan telah mendapatkan kepercayaan di lembaga-lembaga hukum prestesius di negeri ini. 


 Baca selanjutnya...

 

Tim Pengacara

      

Kami memiliki pengacara-pengacara handal yang siap membantu menangani kasus yang Anda hadapi.


 Baca selanjutnya...